Desa Kahala Bawa Inovasi Pangan Lokal ke Penilaian Stunting Nasional
Wawancara virtual Desa Kahala dalam penilaian Desa Berkinerja Baik tingkat nasional. (Doc. DPMD Kukar).
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Pangan lokal menjadi salah satu andalan Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting.
Potensi pangan yang tersedia di sekitar masyarakat diolah menjadi pemberian makanan tambahan (PMT) dalam kegiatan Posyandu 6 SPM Mekar Satu Desa Kahala.
Posyandu 6 SPM merupakan bagian dari transformasi Posyandu yang memperluas pelayanan dasar masyarakat melalui enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yakni bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta sosial.
Melalui Posyandu Mekar Satu, pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu inovasi yang dijalankan Desa Kahala dalam mendukung penanganan stunting.
Inovasi tersebut kini turut dipaparkan dalam penilaian tingkat nasional setelah Desa Kahala dipercaya mewakili Kalimantan Timur dalam nominasi Desa Berkinerja Baik dalam Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting.
Tahapan penilaian berlanjut melalui wawancara virtual yang digelar di DPMD Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (15/9/2026).
Dalam wawancara tersebut, tim penilai menggali berbagai upaya yang dilakukan Desa Kahala dalam mempercepat pencegahan dan penurunan stunting.
Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan wawancara membahas penanganan stunting yang dilakukan desa sekaligus dokumen yang menjadi persyaratan penilaian.
“Berkaitan dengan bagaimana desa itu melakukan penanganan stunting di wilayahnya. Itu yang ditanyakan, dokumen-dokumennya. Penilaian sesuai dengan persyaratan ketentuan mereka,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews ketika di konfirmasi pada Rabu (16/9/2026).
Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari penilaian adalah pemanfaatan pangan lokal sebagai PMT dalam kegiatan Posyandu.
Pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat diolah dan diberikan dalam kegiatan Posyandu, dengan pelaksanaannya juga melibatkan kolaborasi dengan pihak ketiga.
“Mereka memanfaatkan pangan lokal untuk diolah jadi pemberian makanan tambahan di setiap kegiatan Posyandu dan sudah berkolaborasi dengan pihak ketiga,” jelasnya.
Upaya tersebut menempatkan Posyandu sebagai salah satu ruang penting dalam pelaksanaan intervensi stunting di tingkat desa.
Pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di wilayah setempat juga menjadi cara Desa Kahala mengembangkan pemberian makanan tambahan dengan melibatkan potensi dan sumber daya yang ada.
Wawancara virtual tersebut diikuti sejumlah unsur yang terlibat dalam penilaian dan penanganan stunting.
Selain perwakilan Desa Kahala dan Kecamatan Kenohan, hadir pula Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Kutai Kartanegara, tim penilai desa, serta unsur dari Provinsi Kalimantan Timur.
Saat ini, Desa Kahala masih menunggu hasil penilaian dari pemerintah pusat.
Ia mengatakan belum ada informasi mengenai waktu pengumuman hasil tersebut karena masih menunggu proses dari pihak pusat.
“Kita menunggu hasil penilaian dari pemerintah pusat," ucapnya.
Ia menjelaskan apabila Desa Kahala masuk tiga besar nasional, tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan kunjungan dari pemerintah atau panitia pusat ke lokasi penilaian.
Kunjungan tersebut direncanakan berlangsung di Desa Kahala untuk melihat langsung pelaksanaan program di lapangan.
“Nanti kita menunggu kalau masuk tiga besar nasional, itu akan ada kunjungan dari pemerintah panitia pusat ke lokusnya, ke Desa Kahala,” jelasnya.
Desa Kahala kini tinggal menunggu hasil dari seluruh tahapan penilaian tersebut.
Inovasi pemanfaatan pangan lokal melalui Posyandu menjadi salah satu upaya yang telah dipaparkan dalam proses penilaian sebagai bagian dari kinerja desa dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting.
“Harapannya Posyandu 6SPM Mekar Satu Desa Kahala menjadi yang terbaik nasional,” pungkasnya. (kriz)